faith in humanity restored: commuterline edition

setahun lalu, maret 2018, di suatu siang, saat saya sedang berada di krl arah cilebut, dari stasiun depok baru, naiklah seorang ibu tua berpakaian lusuh. ia mendekap kresek merah yang setelah saya perhatikan isinya peyek kacang yang sudah diplastik”in. melihat ibu tersebut, pemuda yang duduk di dekat pintu sontak memberikan tempat duduknya…

well, hari itu sama seperti hari” biasanya di krl. no one looked really care about anyone. semuanya sibuk dengan hapenya, dunianya, atau lamunannya. kecuali ada┬áibu” bawa anak, lansia, orang cacat, ibu hamil, atau orang pingsan. baru deh pada peduli. hehehe.

kembali ke ibu tersebut. duduk di sebelah ibu itu, ada suami istri yang pakaiannya hampir sama dengan ibu tua tersebut. sang bapak sedang tidur sampai ibu tua tersebut duduk. begitu bangun, ia langsung melihat kresek merah tersebut lalu terjadilah percakapan itu

maxresdefault
peyek kacang kek gini ini yang dirindukan orang indonesia di luar negeri yak | sumber gambar dari google images

bapak: itu apa bu?
ibu tua: peyek kacang, pak. mau beli? 10 ribu aja
bapak: bu (ngomong ke istrinya), minta 10 ribu. ….. ini bu beli 1 *sambil ngasih uangnya*
ibu tua: alhamdulillah makasih, pak. ini kreseknya kalo perlu
bapak: gak usah, bu

begitulah terjadi transaksi ajaib di krl hari itu. tanpa proses tawar-menawar dan pertanyaan panjang lebar, transaksi jual beli terjadi antara dua orang yang dari segi harta mungkin berada di bawah saya namun di sisi keluasan hati berada jauh di atas saya…

intinya, banyak lansia yang hanya jualan permen, kwaci, peniti, sampai peyek. mereka inilah yang dagangannya perlu kita beli tanpa berpikir panjang. dengan jualan barang remeh itu, mereka mau nunjukin ke kita kalo mereka tidak mau menyerah pada kemiskinan yang mendera mereka sekaligus menunjukkan bahwa dengan berdagang, harta bisa mereka dapatkan dengan izin allah subhanahu wa ta’ala dengan skenario yang tidak pernah kita duga sekalipun…

signature5be279cb59a5b