me and my dad liked to eat outside

bapak saya rahimahullah adalah orang yang sederhana dan mudah ditebak. memori masa kecil saya masih mengingatnya dengan jelas. biasanya nih, kalo habis ngerokok di teras habis maghrib, beliau masuk rumah lalu bilang,

“riz, ayo andok” (riz, ayo makan di luar)

Sate-Kambing-di-Surabaya
sate kambing surabaya paling enak di surabaya di daerah mana ya? | sumber gambar dari google images

saya mah senang” aja makan di luar. ibu saya yang geleng”.

“iki wong lanang loro kok senengane mangan ning njobo”. (ini dua orang laki kok senengnya makan di luar)

pilihannya pun itu” aja. pertama, warung sate dan gule di daerah nyamplungan. kedua, warung sate dan gule samping lapangan hoki. ketiga, warung sate dan gule di pasar pucang.

jangan tanya kenapa kesemuanya warung sate dan gule. yang saya yakini ya sebagai orang yang 40 tahun lebih hidupnya dihabiskan di surabaya, saya percaya dengan pilihan kuliner bapak.

“nek pengen ngerti, warung enak opo gak, deloken. nek akeh wong cino, biasane enak (kalo mau tahu, sebuah warung enak atau enggak, lihatlah. kalo banyak orang cinanya, biasanya enak)

itu wejangan bapak.

dari ketiga warung itu, kami lebih sering ke warung ketiga. saking seringnya, kalo kami udah duduk dan bapak ngomong “biasa”, penjualnya langsung paham dan langsung menyuguhkan dua piring sate kambing, satu piring gule, dan dua piring nasi kepada kami. yang juga saya ingat dari keluarga madura penjual sate ini, taraf hidup mereka meningkat semenjak jualan sate. ibu dan anak perempuannya memakai gelang emas tebel”. bapaknya? alhamdulillah sudah naik haji.

rahasia hidup nomor #10986. jika kepengen segera naik haji, daganglah sate madura

signature5be279cb59a5b