lesson learned from pomad intersection

StockSnap_TPR4FCFHI7
pagi” posting begini, bikin laper aja | sumber gambar dari web stocksnap

nek dimundhakno mesakne (pelanggan). ngene wae wis untung og. sakjane iso wae takmundhakno, ben sugih. tapi, ngene wae wis cukup mas. nek sugih, kan durung tentu cukup. nek cukup, mesti sugih…

kalau dinaikkan (harganya) kasihan (pelanggan). begini saja sudah untung kok. sebenarnya bisa saja saya naikin, biar kaya. tetapi, begini saja sudah cukup kok, mas. kalau kaya, kan belum tentu cukup. kalau cukup, pasti kaya….

kata penjual nasi goreng langganan saya di simpang pomad, bogor utara, bogor, ketika saya tanya kenapa semua menu mulai dari nasi goreng biasa, ditambah sayur, telornya didadar, atau tambah mie, harganya tetep 11 ribu…
signature5be279cb59a5b

17 thoughts on “lesson learned from pomad intersection

    1. Tak ada yang seperti ini di barat. Kalaupun ada hanya kecil. Pasti orang-orang kaya. Kalau sini, meskipun orang miskin, namun masih memberikan manfaat bagi orang lain.

  1. Alhamdulillah … baiknya ya. Tapi sebenernya itu ilmu sedekahnya si penjual nasi goreng loh menurut saya hehehe. The power of sedekah itu memang luar biasa.

  2. Hasil obrolan tentang ilmu ‘berbagi’ tulus yang takkan didapatkan di bangku sekolah formal. Yang mbaca tulisan ini jadi ikutan paham. Terima kasih 🙂

any comments?